Sekali atau dua kali dalam setahun, Sarwo biasanya menghubungi Dr. Astriani, dan mereka biasanya akan berbicara selama beberapa jam. Kadang lewat telepon, kadang sambil makan. Hanya sebagai teman lama. Astriani secara resminya adalah konsultan, tapi dalam sekian tahun terakhir, ia mendedikasikan waktunya untuk memanfaatkan teknologi dalam membantu orang. Riset terakhirnya, tentang pemanfaatan smartphone dalam mendeteksi orang jatuh, telah menjadikan relasinya berkembang begitu luas. Dan begitu internasional. Setiap kali mereka bertemu, Sarwo sesekali mendengar kata atau istilah baru. Pasti ia menghabiskan waktu berbulan-bulan lagi di tempat eksotis. Demikian biasanya Sarwo akan terkesima, sambil mengamati kacamata, ikat rambut, atau apapun pernak-pernik yang dikenakan.
Dan, orang inilah yang sekarang hadir di kantor Sarwo dan tim kecilnya. Tanpa diundang, seperti hujan di siang hari itu. Sarwo memang menantikan perubahan suasana. Sementara, tim kecilnya memang selalu merindukan hujan. Asalkan tidak terlalu deras. Karena, Sarwo akan punya alasan untuk menahan mereka lebih lama di kantor.
"Ada kabar apa teman-teman?"
"Bisnis masih sama. Kita sedang membuat produk kita lebih modern. Kamu belum pernah ketemu Rifti."
Astriani kemudian berbicara sebentar dengan Rifti. Ya, ia sudah mendengar namanya ketika ketemu dengan Sarwo sebelumnya. Ia juga mendengar bahwa Rifti betah. Rifti bercerita sedikit tentang Sarah. Astriani sesekali bertanya. Mereka saling berbisik, seolah dengan berbicara biasa akan membocorkan rahasia penting.
Penasaran dengan apa yang ingin dibuat lebih modern, Astriani bertanya, "Sisi mana yang bisa dibuat lebih modern? Tampilannya?"
"Betul sekali. Kita sebenarnya ngikutin, tapi baru sekarang ini mau fokus ke tampilan yang responsif. Tidak maintain basis kode yang berbeda." Anto menjawab. Orang ini memang hanya peduli pada kode program.
"Kita juga mulai mempertimbangkan untuk membuka API kita." Sarwo menambahkan. API, atau Application Programming Interface, memungkinkan sejumlah fungsi di aplikasi mereka dapat diintegrasikan dengan solusi pihak ketiga.
"Kita juga sedang mempertimbangkan AI," sambung Karto dengan semangat. "Kita ketinggalan. Masa depan adalah tentang AI." Karto mencari teman, dan Astriani menyambut. Sebatas yang memungkinkan, mereka saling melakukan sitasi paper yang ditulis masing-masing. Astriani memang telah menulis beberapa paper terkait pemanfaatan AI dalam membantu orang.
"Tapi Sarwo tidak setuju," kicau Johan.
Astriani mengedipkan mata ke Rifti, seolah setuju dengan pembicaraan bisik-bisik mereka. Rifti membalas. Melihat ini, Johan pun ikut mengedipkan mata. Semua tertawa. Walau hujan masih turun, suasana terasa cerah. Kantor ini memang perlu lebih sering kedatangan tamu.
Dari sekian produk yang berhasil bertahan, program di bidang kesehatan dan konfeksi adalah andalan mereka. Alasannya sederhana saja. Untuk bidang kesehatan, mereka telah memiliki sejumlah klinik yang menggunakan program mereka, dan klinik-klinik tersebut sudah cukup sibuk. Sama halnya dengan konfeksi. Sama sibuknya. Sampai pada titik tertentu, selama tidak mengganggu, perusahaan-perusahaan tersebut pada dasarnya sudah nyaman. Sarwo dan tim menjaga reputasi mereka dengan melayani semampu mereka. Bahkan ketika tidur, Sarwo menyiagakan beberapa ponsel yang terhubung ke sistem monitoring mereka. Begitu ada kendala, notifikasi akan dikirimkan.
Akan tetapi, masing-masing dari tim kecil ini juga menyadari satu hal. Klinik dan usaha konfeksi baru tentu bisa saja bermunculan, tapi tidak harus selalu membeli program yang mereka buat. Belasan tahun lalu, ketika pertama mereka meluncurkan produk, tidak terlalu banyak saingan. Saat ini, seringkali mereka diam-diam mengagumi produk kompetitor yang bahkan berdiri belum lama. Jauh lebih memikat dan murah.
Dengan reputasi belasan tahun, Sarwo dan tim juga melayani pengembangan program yang spesifik dengan kebutuhan client. Tim ini cukup punya pengalaman. Lagipula, Johan adalah presenter dan konsultan yang ulung. Ia seringkali bisa meyakinkan mereka dengan bicaranya yang tertata baik. Ketika Rifti mendampingi presentasi, Sarwo tahu bahwa tim akan kembali sibuk.
Walau, ide baru mungkin akan menarik.
"Saya lagi butuh implementasi beberapa hal. Apa kalian bisa bantu?" Astriani bertanya. Sebenarnya pertanyaan ini tidak diperlukan. Mereka jelas akan membantu. Teman baik akan saling membantu. Astriani sudah banyak membantu mereka dengan pengalaman internasionalnya. Sesekali ia juga merekomendasikan Sarwo ke kenalan barunya.
"Tapi kali ini bukan hanya pembuatan program biasa."
Sebagai seorang konsultan, Astriani juga memiliki tim kecil. Tapi, tim ini biasanya sudah cukup sibuk dengan urusan penelitian. Mengutak-atik rumus matematika, merangkum paper, meneliti metode baru, dan segala hal rumit lainnya. Mereka tidak tertarik menulis kode program puluhan ribu baris, mengembangkan user interface, merancang API, atau apapun seputar itu.
"Kami sedang kolaborasi dengan beberapa pihak. Kalian tahu kan, di kami saja, data melimpah. Belum lagi dari pihak lain. Memang era big data kan ya. Nah, tim kami kebagian urusan machine learning dan saat ini sedang menguji modelnya."
Mendengar kata model, Johan mulai aktif lagi. Seolah ia punya semacam sensor alami yang sensitif dengan hal-hal tersebut. Tapi dengan segera ia berpaling ke urusan lain begitu mendengar kalimat berikutnya.
"Kami ingin memastikan model ini tidak overfitting. Kami punya tim, tapi waktunya kurang. Saya harus berangkat lagi lusa. Tentu saja kami perlu bangun prototypenya, tapi kalau bisa, pinjam Karto dulu. Hitung-hitungnya menyusul. Gimana?"
Machine learning adalah sesuatu yang sudah diperkenalkan puluhan tahun lamanya dan saat ini sudah umum digunakan di balik layanan-layanan yang digunakan sehari-hari. Idenya adalah bagaimana mendeteksi pola pada data, yang pada akhirnya dapat digunakan untuk melakukan prediksi atau pengambilan keputusan. Programnya sendiri secara prinsip tidak berubah. Dalam bekerja dengan model, apabila model ini terlalu cocok--overfit--dengan setiap data yang ada, pada akhirnya, mungkin tidak dapat memprediksi data baru dengan baik.
Karto, yang ingin dipinjam tersebut, menyambut dengan senang hati. Sebagian hatinya ada di riset, sehingga peluang sekecil apapun akan dimanfaatkan. Sebagian lagi ada di hubungan yang baik dengan Sarwo. Apabila Sarwo setuju, kalau perlu, ia akan terbang saat itu juga. Saat ini, ia sudah siap lepas landas.
"Lagipula, bukankah urusan tulis-tulis kode program sudah mulai tidak penting? Maksudnya, tim kami bahkan bisa menghasilkan program tanpa banyak koding-koding begitu. Jaman sudah modern kan, ha ha ha."
"Ha ha ha," sambung Sarwo. Mungkin saja. Apakah selama ini mereka terlalu fokus ke sana? Apakah urusan pemrograman itu sendiri mengalahkan solusi yang mungkin dihadirkan? Lalu, apakah karena itu mereka terlambat berkembang? Mungkin tim kecil ini harus lebih banyak kerjasama dengan orang lain.
Kesepakatan akhirnya dibuat. Karto akan dipinjam selama enam bulan. Sebagai gantinya, staf magang yang baru akan bergabung. Kelihatannya, ini adalah solusi terbaik. Rifti pun akan senang mendapatkan teman baru. Barangkali lebih menyenangkan daripada harus selalu mendengar celotehan Johan.
Demikianlah, bersama hujan yang telah berhenti, Astriani pun pulang.
Kampus itu masih sepi pada jam 6.30. Beberapa mahasiswa yang rajin sudah tiba, kebanyakan berjalan sendirian. Muka-muka ngantuk sesekali terlihat. Wartika menaiki lift menuju ke ruang dosen. Ia pembicara tamu dari industri dan tidak ingin terlambat. Ruang dosen juga tampak masih sepi, sehingga ia pun menyempatkan diri melihat-lihat.
Ini adalah gedung baru. Angin terasa sangat kencang. Di sekitar kampus, beberapa gedung apartemen dan kantor mulai dibangun. Wartika memandang ke kejauhan, mengamati mobil-mobil yang lewat di jalan tol. Mahasiswa sekarang memang beruntung, batinnya. Kampus yang mewah dan ruang kelas yang nyaman. Katanya perpustakaannya juga lengkap. Mau tidak mau, pikirannya berkelana sejenak ke masa puluhan tahun lalu, ketika pertama kali ia kuliah.
"Selamat pagi, Bu Wartika," sapa Alvina, sambil tersenyum. Mereka belum pernah bertemu secara langsung, hanya saling komunikasi lewat chat dan email.
"Pagi, Bu Alvina. Terima kasih ya, untuk undangannya."
"Dengan senang hati, Bu. Kita ada sesi di jam 7.30. Saya akan dampingi sebentar di kelas ya. Oh ya, mereka sebentar lagi akan mulai magang Bu. Jadi, masukan dari industri sangat penting."
Ruang kelas itu besar dan hanya terisi sebagian. Alvina mengambil mikrofon--tanpa kabel--dan mulai menyapa. "Selamat pagi teman-teman, hari ini kita kedatangan tamu, Bu Wartika, jauh-jauh dari Bandung, untuk sharing. Jadi, jangan malu-malu untuk bertanya ya. Ayo dong, kursi di baris depannya diisi." Kalimat demi kalimat mengalir dengan lancar sambil sesekali Alvina tersenyum.
"Baik, Kak!" mahasiswa-mahasiswi bersahutan menjawab.
Jadi, selain kampus yang mewah, ruang kelas yang nyaman, perpustakaan yang lengkap, mereka juga dibimbing oleh dosen yang pintar, ramah, dan tampak sangat muda. Seberapa banyak mahasiswa yang memanggil dosennya dengan panggilan Kak?
"Selamat pagi adik-adik sekalian. Kalau mau, kalian bisa memanggil saya 'Kak' juga, seperti ke Bu Alvina." Hahaha. Beberapa mahasiswa di baris depan tersenyum.
"Hari ini, kita akan membahas beberapa cara dalam mengukur suatu software. Dari sisi pengembangan, cara paling mudah adalah dengan mengukur jumlah baris kode. Selain berpengaruh langsung pada waktu pengembangan, semakin banyak kode yang ditulis juga berbanding lurus dengan jumlah bug yang mungkin akan ada. Jadi, kadang bukan soal sudah berapa baris kode yang dihasilkan. Lagipula, beberapa bahasa pemrograman lebih ekspresif dibanding yang lain. Ada yang bisa memberikan contoh?" Wartika memancing sebentar. Belum ada tanggapan.
"Misal kalian ingin menyatakan cinta. Kadang tidak harus dengan kata-kata bukan?" Wartika mendengar beberapa reaksi di baris terdepan.
Seorang mahasiswa melambaikan tangan. Alvina memberikan mikrofon dan berpesan, "jangan lupa nama ya."
"Benar sekali Bu. Nama saya Arthur. Tapi kalau tanpa kata-kata sama sekali, bagaimana bisa tersampaikan? Apalagi sekarang pakai chatting, Bu."
"Benar, Arthur. Saya paham. Dalam pengembangan program, tetap ada kode program yang dihasilkan. Baik dengan menulisnya secara manual ataupun dihasilkan oleh tool lain. Contoh, untuk membaca isi sebuah file misalnya. Dengan bahasa Python, ini bisa hanya sebaris. Dengan bahasa lain, mungkin butuh beberapa baris. Di masa lalu, ini bisa lebih dari 10 baris. Di tengah-tengah, mungkin bisa terselip kode yang berpotensi menjadi bug."
"Maksud Ibu, sekarang ini, saya bisa menyatakan cinta dengan sebaris kalimat dan orangnya akan paham? Dan semakin banyak saya berbicara, semakin banyak salah pengertian juga?"
Ruang kelas menjadi riuh dan hidup. Wartika memandang mahasiswa itu dengan lebih cermat. Setiap kali ia berbicara, ia melirik ke mahasiswi yang duduk beberapa kursi di sampingnya. Mahasiswi itu sesekali tersenyum, atau ketawa kecil menanggapi ucapan teman di sampingnya.
"Aurel orangnya Bu...," beberapa suara terdengar. Ruang kelas menjadi lebih ramai lagi. Mahasiswi tersebut, Aurel, lalu ketawa lagi.
"Wah Ibu mungkin tidak bisa menjawab dengan tepat, Arthur. Mungkin ada faktor lain juga. Misalnya waktu. Software juga butuh diuji, seiring waktu." Dengan demikian, pembicaraan pun beralih ke topik lain.
Sejumlah mahasiswa dan mahasiswi lain bertanya, dipandu dengan baik dan cekatan oleh Alvina. Wartika senang bisa berdiskusi dengan anak-anak muda tersebut. Ia menjanjikan kesempatan apabila mereka ingin magang atau berdiskusi lebih lanjut. Apabila perusahaannya tidak memungkinkan, ia masih punya beberapa kenalan.
Sesi dosen tamu tersebut ditutup dengan sukses.
Beberapa kejadian terakhir membuat Sarwo lebih mau berdiskusi, membuka pikiran, terutama dengan anak-anak muda. Pagi ini, kepalanya penuh dengan beberapa ide. Ia memutuskan untuk mengujinya terlebih dahulu ke Rifti.
"Rifti, apakah kamu keberatan dengan terasi?"
"Tidak, Pak. Tapi, ada apa?"
"Apakah kamu bisa makan terasi?"
"Apakah ini adalah undangan makan, Sarwo?" Johan menimpali dari seberang meja.
"Tentu saja bukan. Jadi, bagaimana, Rifti?"
"Oh saya bisa Pak. Sambal terasi."
Menurut Sarwo, terasi adalah nama yang baik untuk layanan masa depan mereka. Terasi memberikan banyak rasa tambahan dan umum dikenal. Sama seperti bakwan, perkedel, atau pangsit. Seperti setiap kali Sarwo memberikan nama, ada inspirasi di baliknya. Bakwan adalah hasil kolaborasi berbagai sayuran yang menjadi makanan enak. Pangsit juga kolaborasi antara tepung dan isiannya. Perkedel bukan idenya sendiri. Anto memberinya cukup banyak kentang--dari berbagai daerah--yang kemudian sebagian diolah menjadi perkedel.
Apabila huruf i ditambahkan pada terasi, maka akan menjadi iterasi. Salah satu teknik dalam pemrograman. Dan barangkali punya arti lebih luas di bidang pendidikan. Belajar, mencoba terus, sampai paham.
Tentangan pertama datang dari Johan. Seakan belum puas dengan Bakwan Pangsit Perkedel sebagai nama perusahaan, Sarwo mungkin akan meminta ia menyebutkan nama makanan lain--setidaknya mirip--ketika presentasi. Kami dari Bakwan Pangsit Perkedel, dan ingin mempresentasikan layanan baru kami: iterasi. Bisa saja orang keliru mendengar, bukan? Bisa-bisa, mereka dianggap dari restoran.
"Baiklah. Kita simpan dulu. Nanti kita coba daftarkan HaKI-nya." Sarwo mengalah kali ini.
Dalam sekian pembicaraan yang produktif dengan Sarah, berkali-kali, mereka menyinggung kolaborasi. Andaikata Sarah ada di sini, kolaborasi pastilah juga nama yang akan dipilih oleh Sarah.
"Kalau begitu, bagaimana dengan kolaborasi?"
Kelihatannya semua setuju.
Sarwo akan menghubungi temannya yang bekerja di bidang HaKI untuk pengurusan hak kekayaaan intelektualnya. Namun, sebelumnya, ia harus membangun tim terlebih dahulu. Beberapa ide sudah terpikir untuk layanan terbaru mereka.
Kali ini, ia tidak akan memulainya lagi sendirian. Atau bersama tim kecilnya. Sudah saatnya mereka bersedia untuk kolaborasi. Sama seperti nama layanannya.